BOMBANA-Chanel Tujuh – Digitalisasi sektor pertanian terus menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Bombana dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada petani. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah memperkuat sistem pendataan komoditas melalui pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen Perkebunan dan Hortikultura (SIMBUNHORTI).
Melalui sistem tersebut, pemerintah berharap seluruh potensi perkebunan dan hortikultura dapat terdokumentasi secara akurat sehingga menjadi dasar penyusunan berbagai program pembangunan pertanian yang lebih tepat sasaran.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi SIMBUNHORTI yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Bombana di Aula Dinas Pertanian, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini diikuti 20 peserta yang terdiri atas petani perkebunan, petani hortikultura, serta penyuluh pertanian dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bombana.
Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Bombana. Hadir pula Sekretaris Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Bombana, serta tim narasumber dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara yang memberikan materi sekaligus pendampingan teknis kepada seluruh peserta.
Dalam sambutannya, Sekretaris Dinas Pertanian Bombana menegaskan kualitas data menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan arah pembangunan pertanian. Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyusun kebijakan yang efektif apabila data yang dimiliki tidak lengkap maupun tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ia menjelaskan, SIMBUNHORTI merupakan sistem yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai data perkebunan dan hortikultura mulai dari identitas petani, luas lahan, jenis komoditas, hingga tingkat produksi. Seluruh informasi tersebut akan menjadi basis data yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam merancang berbagai program pembangunan sektor pertanian.
“SIMBUNHORTI ini merupakan rumah data kita bersama. Kalau datanya akurat dan diperbarui secara rutin, maka program bantuan bibit, pupuk, sarana produksi pertanian, sampai fasilitasi pemasaran hasil pertanian dapat disalurkan lebih tepat sasaran kepada petani Bombana,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses pendataan di lapangan. Salah satunya adalah perubahan kondisi lahan dan komoditas yang belum seluruhnya terdokumentasi secara berkala. Padahal, data tersebut menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan kebijakan maupun menentukan lokasi prioritas pembangunan pertanian.
Karena itu, keberadaan SIMBUNHORTI diharapkan mampu menjadi solusi atas kebutuhan data yang cepat, akurat, dan mudah diakses. Dengan sistem berbasis digital, proses pembaruan informasi dapat dilakukan secara berkala oleh penyuluh maupun petani sehingga kondisi riil di lapangan selalu dapat dipantau.
Tim narasumber dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara kemudian memberikan penjelasan secara rinci mengenai mekanisme penggunaan aplikasi. Peserta dikenalkan pada berbagai fitur yang tersedia, mulai dari proses registrasi pengguna, penginputan identitas petani, pencatatan luas lahan, pemilihan jenis komoditas, hingga pengisian data produksi dan perkembangan tanaman.
Selain menjelaskan aspek teknis, narasumber juga memaparkan manfaat strategis SIMBUNHORTI bagi pembangunan sektor pertanian. Data yang tersimpan di dalam sistem dapat digunakan untuk memetakan potensi unggulan setiap wilayah, mengetahui perkembangan luas tanam dan produksi, mengidentifikasi kebutuhan petani, hingga menjadi dasar dalam penyusunan usulan bantuan pemerintah.
Menurut narasumber, pada era pertanian modern, data telah menjadi salah satu aset yang sangat penting. Pemerintah membutuhkan data yang valid agar setiap program pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebaliknya, data yang tidak akurat berpotensi menyebabkan bantuan tidak tepat sasaran serta menghambat proses perencanaan pembangunan.
Selama kegiatan berlangsung, suasana sosialisasi berjalan interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga mengikuti praktik langsung menggunakan aplikasi SIMBUNHORTI melalui telepon pintar masing-masing. Dengan didampingi narasumber, peserta mencoba melakukan simulasi penginputan data komoditas secara bertahap.

Antusiasme peserta terlihat ketika sesi praktik berlangsung. Sejumlah penyuluh dan petani aktif mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme pembaruan data, tata cara memperbaiki data apabila terjadi kesalahan, hingga prosedur pelaporan apabila ditemukan perubahan kondisi lahan di lapangan.
Bagi sebagian peserta, penggunaan aplikasi digital merupakan pengalaman baru dalam mendukung aktivitas pertanian. Meski demikian, pendampingan yang diberikan membuat mereka mampu memahami alur penggunaan aplikasi dengan baik. Para peserta juga menilai sistem tersebut akan mempermudah proses pendataan dibandingkan metode manual yang selama ini digunakan.
Dinas Pertanian Bombana berharap seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing. Penyuluh pertanian diharapkan menjadi pendamping bagi kelompok tani dalam melakukan pendataan secara berkala, sementara kelompok tani diharapkan aktif menyampaikan informasi terbaru mengenai kondisi usaha taninya.
Ke depan, data yang terkumpul melalui SIMBUNHORTI diharapkan semakin lengkap sehingga pemerintah memiliki basis informasi yang kuat dalam merumuskan berbagai kebijakan pembangunan pertanian. Mulai dari penyaluran bantuan benih dan pupuk, pengembangan kawasan hortikultura dan perkebunan, peningkatan produktivitas, hingga penguatan akses pasar bagi hasil pertanian masyarakat Bombana.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Dinas Pertanian Kabupaten Bombana menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi digital sektor pertanian. Digitalisasi pendataan diyakini menjadi langkah penting untuk menciptakan tata kelola pembangunan pertanian yang lebih transparan, efektif, dan akuntabel.
Dengan dukungan penyuluh, kelompok tani, pemerintah daerah, serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, implementasi SIMBUNHORTI diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem pertanian modern yang berbasis data. Pada akhirnya, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya lebih tepat sasaran, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan daya saing sektor pertanian Kabupaten Bombana.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi, evaluasi pelaksanaan pelatihan, serta foto bersama antara peserta, narasumber, Sekretaris Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Bombana, beserta seluruh jajaran panitia sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun sistem pendataan pertanian yang lebih modern dan terintegrasi. (ADV)
