BOMBANA – Chanel Tujuh- Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Bombana, Pemerintah Kabupaten Bombana memilih sebuah cara yang berbeda untuk menjaga identitas daerah. Saat meresmikan kolam renang terbesar yang kini menjadi ikon baru olahraga dan rekreasi masyarakat, pemerintah tidak menggunakan nama modern atau istilah asing. Sebaliknya, sebuah nama yang lahir dari sejarah panjang suku asli Bombana justru diabadikan. Nama itu adalah La’ea Morini.
Bagi masyarakat umum, nama tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi masyarakat Moronene, La’ea merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah peradaban. Nama itu telah hidup jauh sebelum Bombana berdiri sebagai sebuah kabupaten. Ia menjadi penanda asal-usul, ruang hidup, sekaligus saksi perjalanan masyarakat Moronene yang hingga kini masih menjaga adat dan tradisi leluhurnya.
Pemilihan nama Kolam Renang La’ea Morini bukan sekadar memberi identitas pada sebuah fasilitas publik. Pemerintah daerah ingin menghadirkan pesan bahwa pembangunan yang dilakukan hari ini tidak boleh menghapus sejarah yang telah membentuk Bombana selama ratusan tahun.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bombana, Astri As Ad mengatakan setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah harus memiliki makna dan nilai sejarah.
Menurutnya, pembangunan fisik memang penting sebagai bagian dari peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Namun di sisi lain, identitas budaya daerah juga harus tetap dijaga agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman.
“Kami ingin pembangunan di Bombana memiliki karakter. Karena itu, penamaan Kolam Renang La’ea Morini bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Nama ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang masyarakat Moronene yang merupakan suku asli Bombana. Kami ingin setiap pembangunan tetap berpijak pada akar budaya daerah,” ujar Astri.

Ia menjelaskan, La’ea merupakan salah satu wilayah yang memiliki nilai historis sangat kuat dalam perjalanan masyarakat Moronene. Kawasan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan masyarakat adat yang hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Melalui penamaan tersebut, pemerintah berharap masyarakat, terutama generasi muda, semakin mengenal sejarah daerahnya sendiri.
“Ketika anak-anak datang berenang dan melihat nama La’ea Morini, kami berharap mereka bertanya apa arti nama itu. Dari rasa ingin tahu tersebut mereka akan mengenal sejarah Bombana dan memahami bahwa daerah ini memiliki warisan budaya yang sangat kaya,” katanya.
Astri menilai pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan bangunan megah tanpa identitas. Justru fasilitas publik harus mampu menjadi media edukasi sekaligus memperkenalkan sejarah kepada masyarakat.
“Bangunan bisa berdiri puluhan bahkan ratusan tahun. Karena itu kami ingin setiap orang yang datang ke sini tidak hanya menikmati fasilitasnya, tetapi juga memahami filosofi nama yang melekat pada kolam renang ini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Gufron, salah seorang tokoh pencinta budaya Moronene. Menurutnya, keputusan pemerintah menggunakan nama La’ea Morini merupakan langkah yang sangat tepat karena menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah masyarakat adat Moronene.
Ia menjelaskan bahwa La’ea bukan sekadar nama wilayah, tetapi merupakan bagian dari identitas masyarakat Moronene yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Dalam sejarah Moronene, La’ea memiliki makna yang sangat besar. Wilayah itu menjadi bagian dari perjalanan leluhur kami sejak dahulu. Ketika nama itu digunakan untuk sebuah fasilitas publik, berarti pemerintah sedang menjaga agar sejarah itu tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Gufron.

Menurutnya, selama ini banyak generasi muda yang mulai asing dengan sejarah daerahnya sendiri. Karena itu, penggunaan nama-nama lokal pada fasilitas publik menjadi salah satu cara efektif untuk memperkenalkan kembali warisan budaya kepada masyarakat.
“Kalau hanya ditulis di buku sejarah, mungkin tidak semua orang membacanya. Tetapi ketika nama La’ea dipasang di sebuah bangunan yang setiap hari dikunjungi masyarakat, maka orang akan terus melihat, membaca, dan mengingatnya. Itu menjadi media pendidikan budaya yang sangat baik,” katanya.
Gufron menilai langkah tersebut juga menjadi bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Bombana tidak hanya fokus membangun infrastruktur, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.
“Daerah yang maju adalah daerah yang tidak melupakan sejarahnya. Pembangunan boleh modern, tetapi identitas budaya harus tetap dijaga. Saya mengapresiasi pemerintah yang memilih nama La’ea Morini karena itu menunjukkan penghormatan kepada leluhur Moronene,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak fasilitas publik yang menggunakan nama-nama lokal sehingga kekayaan sejarah Bombana semakin dikenal luas.
Menurut Gufron, setiap nama lokal memiliki cerita yang berbeda-beda dan dapat menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.
Sementara itu, Astri menambahkan bahwa Kolam Renang La’ea Morini tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat rekreasi masyarakat. Fasilitas tersebut akan menjadi pusat pembinaan atlet renang Bombana, lokasi penyelenggaraan kejuaraan olahraga, hingga destinasi wisata keluarga.
Disparpora juga telah menyiapkan berbagai program pembinaan olahraga renang bagi anak-anak dan pelajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan prestasi olahraga daerah.
“Kami ingin kolam renang ini hidup setiap hari. Ada anak-anak yang belajar berenang, atlet yang berlatih, masyarakat yang berolahraga, hingga wisatawan yang datang menikmati fasilitas ini. Jadi manfaatnya tidak hanya di bidang olahraga, tetapi juga pariwisata dan ekonomi masyarakat,” jelas Astri.
Ia optimistis Kolam Renang La’ea Morini akan menjadi ikon baru Kabupaten Bombana. Bukan hanya karena fasilitasnya yang representatif, tetapi juga karena nilai sejarah yang melekat pada namanya.
“Harapan kami, La’ea Morini menjadi simbol bahwa Bombana mampu membangun masa depan tanpa melupakan masa lalu. Inilah bentuk komitmen pemerintah untuk terus menjaga budaya lokal di tengah pembangunan daerah yang semakin maju,” pungkasnya.
Dengan demikian, Kolam Renang La’ea Morini tidak sekadar menjadi tempat masyarakat belajar berenang atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Lebih dari itu, setiap orang yang melintasi gerbangnya akan diingatkan bahwa di balik nama tersebut tersimpan kisah panjang tentang Moronene, tentang leluhur yang membangun peradaban di tanah Bombana, dan tentang sebuah daerah yang memilih melangkah menuju kemajuan tanpa meninggalkan akar sejarahnya. (ADV)
