Pesona Bukit Punggung Kuda Bombana, Paduan Savana, Danau Alami, dan Sunset pikat pengunjung

Komentar
X
Bagikan

 

BOMBANA – Chanel Tujuh- Pesona panorama Kabupaten Bombana seolah tidak pupus dari kejutan alamnya. Jika selama ini daerah di ujung selatan Sulawesi Tenggara itu dikenal dengan pantai, pulau-pulau eksotis, dan kekayaan budaya Moronene, kini muncul destinasi baru yang mulai mencuri perhatian para pecinta wisata alam.

Namanya Bukit Punggung Kuda, sebuah bentang savana alami di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara, yang menawarkan panorama berbeda dari destinasi lain di Sulawesi Tenggara.

Hamparan padang rumput yang bergelombang menyerupai punggung seekor kuda menjadi asal-usul penamaan bukit tersebut. Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati lanskap danau alami yang dikelilingi perbukitan hijau, hamparan savana, serta panorama matahari terbit dan cahaya bulan yang menjadi daya tarik utama kawasan ini.

Bukit Punggung Kuda berada di Desa Wumbubangka dan berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sehingga memiliki karakter bentang alam savana yang khas.

Keindahan itu membuat Bukit Punggung Kuda perlahan menjadi destinasi favorit para pencinta fotografi, pendaki, pesepeda, hingga komunitas trail run. Tidak sedikit wisatawan yang rela datang sejak dini hari hanya untuk menyaksikan matahari perlahan muncul dari balik perbukitan, memantulkan cahaya ke permukaan danau yang tenang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bombana, Astri As Ad, mengatakan Bukit Punggung Kuda merupakan salah satu aset wisata alam yang memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai destinasi unggulan daerah.

Menurutnya, Bombana memiliki kekayaan bentang alam yang sangat beragam. Tidak hanya wisata bahari, tetapi juga kawasan savana, hutan, dan perbukitan yang mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

“Bukit Punggung Kuda memiliki karakter yang sangat unik. Lanskapnya berbeda dengan destinasi lain di Bombana. Dari atas bukit, pengunjung bisa menikmati perpaduan savana, danau, serta panorama matahari terbit yang sangat indah. Potensi ini akan terus kami kembangkan sebagai salah satu ikon wisata alam Bombana,” ujar Astri.

 

 

Ia menjelaskan, pengembangan destinasi wisata saat ini tidak lagi hanya mengandalkan keindahan alam. Pemerintah juga berupaya meningkatkan aksesibilitas, promosi, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung.

Menurut Astri, kehadiran wisatawan akan membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan usaha kuliner, penyewaan perlengkapan berkemah, jasa pemandu wisata, hingga penjualan produk UMKM.

“Yang ingin kami bangun adalah pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketika kunjungan wisata meningkat, maka ekonomi warga juga ikut bergerak. Itulah konsep pariwisata berkelanjutan yang terus kami dorong,” katanya.

Bukit Punggung Kuda memang memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Perjalanan menuju puncak tidak terlalu berat sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Selama pendakian, wisatawan disuguhi hamparan padang rumput yang berubah warna mengikuti musim. Saat musim hujan, bukit tampak hijau membentang. Sebaliknya pada musim kemarau, warna keemasan mendominasi lanskap, menghadirkan nuansa savana yang eksotis.

Di puncaknya, panorama terbuka 360 derajat menjadi hadiah bagi setiap pengunjung. Danau yang tenang berpadu dengan lekukan bukit-bukit alami menciptakan pemandangan yang kerap disebut menyerupai bentang alam di luar negeri.

Tak heran jika kawasan ini semakin sering menjadi lokasi fotografi alam, camping, hingga olahraga luar ruang seperti trail running dan mountain biking.

 

 

Menurut Astri, tren wisata saat ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak lagi sekadar mencari tempat berfoto. Mereka menginginkan pengalaman menikmati alam yang masih alami, jauh dari keramaian kota, sekaligus memiliki nilai edukasi lingkungan.

“Kami melihat Bukit Punggung Kuda memiliki semua unsur tersebut. Alamnya masih sangat terjaga. Ini menjadi modal besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata,” ujarnya.

Disparpora Bombana juga mulai memasukkan Bukit Punggung Kuda dalam berbagai materi promosi pariwisata daerah. Destinasi tersebut dipadukan dengan objek wisata lain seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Pantai Tamborasi, Pulau Kawi-Kawia, Kampung Adat Hukaea Laea, hingga kawasan sabana Pajonga sehingga wisatawan memiliki banyak pilihan dalam satu perjalanan.

Menurut Astri, keberagaman destinasi menjadi kekuatan Bombana dibandingkan daerah lain.

“Dalam satu kabupaten, wisatawan bisa menikmati wisata bahari, savana, hutan, budaya, hingga wisata sejarah. Potensi seperti ini sangat jarang dimiliki daerah lain. Tinggal bagaimana kita mengelolanya secara profesional,” katanya.

Ke depan, pemerintah daerah juga akan terus mendorong promosi digital melalui foto, video, dan media sosial agar Bukit Punggung Kuda semakin dikenal masyarakat luas.

Promosi tersebut dinilai penting mengingat sebagian besar wisatawan saat ini menentukan tujuan perjalanan berdasarkan informasi yang mereka temukan di platform digital.

Selain promosi, aspek pelestarian lingkungan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mengajak seluruh pengunjung menjaga kebersihan kawasan, tidak merusak vegetasi savana, dan tetap mematuhi aturan selama berada di lokasi.

Astri menegaskan bahwa keindahan Bukit Punggung Kuda hanya akan bertahan apabila seluruh pihak memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian alamnya.

“Kami ingin destinasi ini berkembang tanpa kehilangan keasliannya. Alam adalah daya tarik utama Bukit Punggung Kuda. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Dengan lanskap yang unik, udara yang sejuk, serta panorama matahari terbit yang memukau, Bukit Punggung Kuda menjadi bukti bahwa Bombana tidak hanya kaya akan wisata bahari, tetapi juga memiliki bentang alam daratan yang luar biasa.

Di balik lekukan savana yang menyerupai punggung seekor kuda itu, tersimpan harapan baru bagi pariwisata Bombana. Sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga peluang ekonomi bagi masyarakat serta memperkuat posisi Bombana sebagai salah satu tujuan wisata alam unggulan di Sulawesi Tenggara. (ADV)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *